Konflik Yaman kembali memanas pasca meningkatnya eskalasi serangan dari pemberontak di Utara Yaman yang dikenal dengan Kelompok Houthi; sebuah kelompok agama yang berdiri di atas keyakinan Syi’ah Zaidiyah. Belum sempurna upaya mengakhiri kekuatan pemberontak, kerusuhan kembali muncul dengan adanya kekuatan baru di wilayah Selatan dan menyatakan diri sebagai bagian dari organisasi Al Qaeda. Organisasi ini kemudian menjadikan basis perlawanannya di wilayah Selatan. Keberadaannya di Yaman tentu banyak mencuri perhatian Amerika dan negara sekutunya, hal ini yang membuat Obama berinisiatif untuk menambah list target kampanye anti terorismenya ke Republik Arab Yaman. Dengan demikian pemerintah Sana’a kini dikepung dengan dua permasalahan; kasus pemberontakan kelompok Houthi di Utara, dan bangkitnya organisasi Al Qaeda di Selatan.
Republik Arab Yaman dikenal sebagai negara yang membebaskan rakyatnya memiliki senjata. Dengan jumlah penduduk 22 juta jiwa, negeri ini dikenal juga sebagai negeri sipil bersenjata. Hal ini yang membuat pihak asing harus berfikir panjang untuk memasuki Yaman. Ini pula yang menjadikan negara itu disegani, dan dengan alasan ini pula perang saudara mudah terjadi. Yaman sendiri baru bersatu pada tahun 1990 setelah sebelumnya terpecah dalam dua negara; Yaman Utara dan Yaman Selatan.
Beberapa pengamat menilai, bersatunya Yaman tak lepas dari perkembangan politik di dunia internasional. Di akhir tahun 1989 tembok Berlin yang memisahkan Jerman Timur dan Barat diruntuhkan. Di awal tahun 1990 kekuatan Uni Soviet kian melemah dan kemudian dibubarkan pada tahun 1991, terkhusus setelah tentara Soviet dipaksa mengakui kekalahannya di Afghanistan dan berujung dengan pecahnya negara komunis itu menjadi negara-negara kecil. Sebelum Yaman bersatu, Yaman Selatan merupakan negara sosialis yang berkiblat ke Uni Soviet. Wilayah negara itu berbatasan dengan Oman, Saudi dan Yaman Utara yang berpaham Sunni. Maka menggabungkan diri dengan Yaman Utara tentu menjadi pilihan terbaik bagi Yaman Selatan untuk menyelamatkan nasib negerinya.
Tanggal 22 Mei 1990 Yaman resmi bersatu dengan presidennya diangkat dari Yaman Utara dan wakilnya dari Yaman Selatan. Terpilihlah Ali Abdullah Shalih sebagai Presiden Republik Arab Yaman hingga sekarang, dirinya sendiri sudah menjabat sebagai Presiden Yaman Utara sejak tahun 1978. Selang 4 tahun dari pengangkatan, konflik besar kembali terjadi, antara pemerintah Sana’a dengan kelompok Partai Sosialis di selatan Yaman. Ancamannya tidak lain adalah ingin memisahkan diri dan membentuk kembali negara Yaman Selatan. Perang yang dikenal dengan sebutan “perang musim panas 94” ini pun kemudian berakhir setelah pemerintah pusat berhasil menguasai keadaan dan menangkap serta mengasingkan para pemberontak ke luar Yaman.
Di paruh terakhir tahun 2009 kemarin, pemerintahan Ali Abdullah Shalih kembali dipusingkan dengan adanya pemberontakan di wilayah Utara, tepatnya di propinsi Sa’dah yang berbatasan langsung dengan Saudi Arabia. Pemberontakan yang dipimpin oleh kelompok Al Houthi ini bukan untuk pertama kalinya terjadi. Kelompok ini sudah melakukan perlawanannya sejak tahun 2004. Dampak dari konflik di utara tersebut—sebagaimana yang tercatat di PBB—adalah meningkatnya pengungsi di Yaman Utara, yang hingga sekarang jumlahnya mencapai 200 ribu orang.
Kelompok Al Houthi yang hidup di bawah manhaj Syi’ah, tentu berseberangan dengan pemerintah Yaman dan negara tetangganya, Saudi Arabia yang keduanya merupakan negara Muslim Sunni. Konflik pun memanas hingga terjadi perang fisik yang menelan banyak korban sipil dan anak-anak. Dalam mengatasi hal ini, pemerintah Sana’a dan Riyadh melakukan kerjasama yang baik. Bahkan Saudi sudi menyuntikkan dana ke Sana’a setiap tahunnya sebesar 2 Milyar USD, dengan target menjamin keamanan wilayah perbatasan Saudi-Yaman. Konflik semakin diperjelas dengan indikasi yang kuat adanya dukungan Iran terhadap pemberontak Houthi. Diantaranya, senjata yang digunakan pemberontak diketahui sebagai senjata buatan Iran yang disuplai kepada mereka. Yaman sendiri sempat menembak jatuh pesawat mata-mata tanpa awak milik Iran di Yaman. Berdirinya kekuatan Syiah di tanah Arab, tentu menjadi impian tersendiri bagi Syiah di Iran.
Menariknya, Yaman dan Saudi Arabia adalah dua partner bangsa Arab yang memiliki kedekatan dengan Amerika Serikat. Selama perang berlangsung, campur tangan Amerika begitu jelas terlihat. Seperti laporan serangan pesawat tempur di Sa'dah, yang diketahui merupakan jet-jet tempur milik AS. Jadilah negeri para habib hadramaut itu sebagai medan pertempuran semi antara Amerika dan Iran. Menguatnya bantuan Amerika ke Yaman, semakin membulatkan tekad kelompok Al Qaeda, yang dalam pernyataannya, akan selalu mengincar Amerika dimana pun berada. Kelompok ini kemudian segera berdatangan dan menampakan diri di Yaman Selatan. Beberapa serangan yang diarahkan ke instansi milik Amerika menjadi sasaran serangan mereka. Selatan pun kembali bergejolak hingga kini.
Hari Natal tahun 2009 kemarin menjadi puncak kesiapan Amerika dan sekutunya memerangi Yaman. Kasus peledakan pesawat Northwest yang terbang dari Amsterdam ke Detroit yang berhasil digagalkan, boleh jadi menjadi lembaran baru terbukanya konflik yang lebih besar di Yaman. Seorang anak muda yang diketahui berasal dari Nigeria bernama Umarulfaruq Abdul Mutholib, disebut sebagai pelaku dari agenda peledakan pesawat tersebut. Dalam kesaksiannya, ia pun diberitakan telah melakukan latihan di gunung-gunung di Yaman. Menariknya lagi, sumber Amerika menyatakan dirinya sebagai anggota dari Al Qaeda. Dengan demikian, Amerika dan sekutunya seakan mendapat legalisasi dan berkewajiban untuk memburu Al Qaeda di sana dan mulai serius memfokuskan diri mengagendakan serangan ke Yaman.
Pemerintahan Yaman pun dijanjikan mendapatkan bantuan dana lebih besar untuk mengatasi Al Qaeda di sana, bila di tahun 2009 dana yang dipinjamkan sebesar 70 juta USD, namun tahun ini bantuan yang diberikan meningkat hingga angka 150 juta USD. Amerika pun kali ini cukup berbaik hati, dengan menjadikan suntikan dana itu sebagai hibah. Namun untuk saat ini, Presiden Amerika, Barack Obama dalam pernyataannya mengatakan, dirinya tak akan mengirim pasukannya ke Yaman, namun negerinya siap menopang dari segi financial. Hal yang sama juga ia berlakukan dengan negara Somalia yang konflik internalnya tak kunjung usai, dengan adanya pemberontakan dari Syabab Mujahidin yang juga menyatakan diri sebagai bagian dari organisasi Al Qaeda.
Bukan rahasia lagi bila Amerika selalu memiliki niatan terselubung dalam setiap aksinya. Politik yang mereka miliki dengan istilah stick or carrot tentu sangat mudah dipahami. Bukan mustahil dengan dalih pemberantasan teroris, mereka menginjakkan kaki di tanah arab dan mengulang seperti apa yang pernah mereka lakukan di Afghanistan dan Irak. Hal ini yang dengan keras diperingatkan oleh Prof. Dr. Syeikh Abdulmajid Az-zindani, Rektor Universitas Al Iman di Yaman. Dalam wawancaranya dengan Al Jazeera beliu mengatakan bahwa keberadaan Amerika di Yaman tidak lain bertujuan untuk menjajah. Ulama yang diusir dari Mesir dalam pengembaraan ilmunya di sana, karena terlibat aktif dalam organisasi Ikhwanul Muslimin ini, memprediksikan adanya upaya dari Amerika dan Inggris bekerjasama dengan NATO dalam KTT London yang diadakan pada 28 Januari 2009 nanti untuk mengirimkan pasukannya ke Yaman.
Saat ini pemerintah terus melakukan lobi untuk berdialog dengan kedua kelompok, baik Al Houthi dan Al Qaeda. Tentu dialog menjadi solusi yang terbaik bagi kemaslahatan bersama dan kesatuan Republik Arab Yaman. Hal ini yang tengah diupayakan oleh Ali Abdullah Shaleh selaku presiden, dengan catatan, kedua kelompok menghentikan serangan dan menyerahkan senjata. Bila upaya ini gagal, kemungkinan masuknya tentara asing ke Yaman semakin besar. Mengingat Yaman merupakan negara miskin dan kaya korupsi dan tidak memiliki kekuatan maksimal untuk menghadapi para pemberontak. Terlebih kepemimpinan Abdullah Shaleh tidak cukup mensejahterakan rakyatnya sehingga menjadi alasan dari para pemberontak, termasuk mereka yang berada di kawasan utara dan kelompok sentimen separatis di Selatan Yaman.
Pemerintah Yaman sendiri mewanti-wanti Amerika dan sekutunya untuk saat ini agar tidak mengirim pasukannya ke Yaman. Hal ini dikhawatirkan, karena kebencian rakyat Yaman kepada Amerika yang memuncak dan bila pemerintah membolehkan Amerika dan sekutunya memasuki Yaman, bukan mustahil bila rakyat Yaman kemudian berbalik memihak Al Qaeda dan kekuasaan pemerintah saat ini pun menjadi terancam. Memperkuat pasukan dan mensejahterakan rakyatnya menjadi hal paling urgen yang harus dilakukan pemerintah Yaman saat ini. Jika tidak, Yaman hanya akan jadi bulan-bulanan Al Houthi dan Al Qaeda. Kelemahannya akan memaksa Amerika dan sekutunya datang ke Yaman dan terwujudlah apa yang disebut oleh para analis sebagai Afghanistan ke dua. Wallahu al musta’an.
Penulis: Muhammad Syarief, Mahasiswa Pascasarjana AOU Cairo, Wakil DIrektur SINAI (Studi Informasi Alam Islami) Mesir e-mail: rieff02@yahoo.com
Friday, January 15, 2010
Yaman: Target Amerika Berikutnya.
Thursday, January 14, 2010
Obama ajukan tambahan 33 Miliar Dolar AS untuk Perang
Washington-Pemerintahan Barack Obama berencana mengajukan tambahan 33 miliar dolar AS kepada Kongres Amerika Serikat untuk dana perang di Afganistan dan Irak.Tambahan dana itu merupakan bagian rencana anggaran Departemen PErtahanan AS 2011.
Pemerintah Obama akan mengajukan rencana anggaran itu melalui Kongres AS pada 1 Februari 2010.Obama juga berencana memberitahu Kongres bahwa misi militer AS empat tahun ke depan adalah memenangkan perang-perang yang dilakoni serta mencegah perang baru.
Perang melawan pemberontak dan teroris termasuk dalam misi tersebut.Pembahasan evaluasi anggaran militer empat tahunan itu dilakukan Pemerintah AS pada 11-12 Januari 2010.
Selain mengevaluasi, petinggi militer AS juga membahas rencana anggaran militer sampai 2015.Dalam revisi itu di jabarkan enam misi kunci yang harus di capai Pentagon.
Salah satu yang menjadi prioritas adalah engadaan pesawat-pesawat tempur otomatis atau pesawat tanpa awak.Pesawat itu akan di gunakan dalam misi menyerang markas-markas kelompok ektrimis di Afghanistan dan Pakistan.
Namun , sebagian besar dana 33 miliar dolar AS itu kemungkinan akan digunakan dalam misi ekspansi ke Afghanistan.Tindakan ini dilakukan Obama agar mendapat dukungan dari Partai Republik.
PErmintaan ke KOngres AS itu akan semakin meningkatkan tekanan bagio anggota Demokrat pendkung Obama.Bisa jadi permintaan itu memmunculkan perselisihan di Demokrat.Ini mengingat sebagian beranggapan rakyat AS tidak menyetujui perang di Afghanistan dan Irak.Akhir tahun lalu, Obama menambah pasukan sebanyak 30 ribu tantara ke Afghnistan.
Sementara itu, pejabat militer AS menyarankan pada 2011, pemerintahan Obama mengalokasikan 700 milian dolar AS untuk Departemen Pertahanan.Anggaran total 2010 yang diajukan Obama hanya 128 miliar dolar AS.
Proyek Pentagon utnuk perang akan menurun tajam pada 2012 menjadi 50 miliar dolar AS saja.Angka tersebut akan bertahan sampai 2015.
Turunnya Anggaran itu lantaran adanya penarikan pasukan di Irak pada 2011 serta kemungkinan berkurangnya keteganggan di Afghanistan pada tahun yang sama.
Wednesday, August 26, 2009
Bulan Puasa, Ivan Gunawan Ogah Tobat :sombong bangettttt
Jakarta Banyak hal yang ingin dilakukan orang di bulan suci ini, salah satunya bertobat. Tapi tidak dengan presenter sekaligus perancang busana Ivan Gunawan. Ivan menolak untuk bertobat. Kenapa?
"Aku tobat juga nggak ada yang harus aku tobatin," ujarnya saat ditemui Wisma Bakrie, Kuningan, Jakarta Selatan, baru-baru ini.
Presenter acara 'Inbox' itu mengungkapkan kehidupan yang dijalaninya kini jauh dari kata negatif. Hal itu pun yang membuatnya tidak perlu untuk bertobat.
Masih soal puasa, Ivan punya pengalaman unik bareng Gading Marten rekannya di acara 'Hip-hip Hura'. Ivan mengaku sering digoda oleh Gading supaya batal puasa. Gading pun beberapa kali memamerkan minuman dingin kepada Ivan.
"Dia minum Pocari Sweat sama es teh manis itu rasanya ingin aku tonjok itu orang," ujarnya sambil tertawa.
Thursday, June 4, 2009
MUI: Jangan Eksploitasi Ayat Demi Mendulang Suara
MUI meminta para kandidat tak menyerang pribadi kompetitornya. Apalagi mengeksploitasi ayat-ayat Al-Quran
Hidayatullah.com--Dalam masa kampaye pilpres, segudang cara dilakukan para kandidat untuk mendulang suara sebanyak-banyaknya. Tentu maksudnya untuk menarik simpati umat Islam.
Menurut Wakil Ketua Komisi Fatwa MUI, KH Ali Mustafa Yakub, menyelipkan ayat al-Quran dalam kampaye boleh-boleh saja yang penting jangan mengeksploitasi ayat.
Penyampaian program butuh kejelasan hukum (ayat dan hadist, red), untuk memperkuat program tersebut, selama tidak digunakan untuk mempermainkan ayat dan membohongi rakyat,” ujarnya kepada www.hidayatullah.com.
Imam Masjid Istiqlal Jakarta ini juga melarang para kandidat capres membongkar aib kompetitornya, menfitnah, dan menjelek-jeleknya.
“Kampaye tidak boleh menjelek-jelekkan, menfitnah, dan mengghibah,” jelasnya. “Jika hal itu dilakukan, sebenarnya hanya memburukkan citra mereka sendiri.”
Sebagaimana dilakukan Ruhut Sitompul (tim kampaye SBY_Boediono), kata KH Ali Mustafa Yakub, yang menyatakan bahwa bangsa Arab tidak pernah
memberikan bantuan kepada Indonesia dan membanggakan AS sebagai `penyelamat' ekonomi negara ini, hal itu tidak boleh terjadi. Sebab, dengan demikian akan memperburuk citra mereka sendiri. [ans/www.hidayatullah.com]
Monday, June 1, 2009
Deklarasi SBY-Berbudi Dalam Bahasa Simbol (Tamat)
Peningkatan utang negara selama pemerintah SBY naik rata-rata 80 triliun per tahun. Angka ini mengalahkan utang di era Soeharto yakni 1500 triliun dalam jangka 32 tahun.
Selain sangat Americanized, acara deklarasi SBY-Boediono juga menyampaikan pesan lain lewat bahasa simbolik mereka.
Acara yang sebenarnya sangat biasa saja ini, dan bisa diselengarakan dengan biaya yang murah, oleh Partai Demokrat (PD) dikemas dalam kemasan yang sangat mahal, mewah, dan megah. Apa artinya?
Tidak Berpihak Pada si Miskin
Acara Deklarasi SBY-Boediono yang digelar Jum’at sore, 15 Mei 2009, di Gedung Sasana Budaya Ganesha (Sabuga) Bandung menelan biaya tidak kurang dari 1,5 miliar rupiah. Ini sungguh suatu pameran kemewahan yang luar biasa di tengah-tengah penderitaan ratusan juta rakyat Indonesia yang untuk makan saja sangat sulit.
Seorang pembaca KOMPAS (16 Mei 2009) dalam Rubrik “Kata Kita” yang lainnya mengirim pesan singkat: “Deklarasi SBY-Boediono menghamburkan uang dan tak merakyat. Event Organizer-nya ngesok benar!” (Kusmulyadi, Bandar Lampung, +6285697514XXX)
Sejumlah pengamat politik juga menyesalkan mengapa SBY-Boediono tega-teganya menggelar hajatan mewah tersebut di saat jutaan rakyatnya masih berkubang di lumpur kesengsaraan yang amat parah. Beberapa orang bahkan menganggap pasangan ini takabur dan terlalu percaya diri, seolah-olah mereka sudah pasti menang, padahal belumlah tentu.
Setiap orang pastilah menyadari jika di balik setiap tema acara, terdapat makna filosofis yang menggambarkan jatidiri yang punya hajat. Dan acara mewah tersebut dengan sangat baik menyampaikan pesan kepada rakyat Indonesia: “Kami tidak memiliki empati terhadap nasib kalian.”
Hal ini tentu dibantah oleh yang punya hajat. Namun bahasa simbol bicara dengan jujur dan setiap orang yang memiliki nurani pasti merasakan hal itu. Pakar komunikasi politik Dr. Effendi Ghazali dalam beberapa kesempatan di sejumlah acara teve juga menyatakan jika acara mewah tersebut mengirim pesan jika mereka tidak pro-rakyat miskin.
“Beda dengan pasangan Mega Pro yang menggelar acara deklarasi di Gunung Sampah Bantar Gebang. Yang ini jelas, lewat komunikasi politik yang ada, mereka hendak menyatakan bersungguh-sungguh berdiri di belakang rakyat miskin.”
Entah berkaitan atau tidak, tidak dimilikinya empati dalam acara mewah tersebut sejalan dengan konsep-konsep IMF yang sejak tahun 1998 menawarkan konsep-konsep yang banyak membunuh jutaan rakyat miskin di negeri ini. Walau Boediono membantah dirinya sebagai agen IMF, namun banyak konferens pers yang dia gelar sebagai pejabat Gubernur BI atau Menko Perekonomian dahulu menyatakan hal sebaliknya.
Dalam artikel berjudul “Jalan Liberal Pak Boed” (Media Indonesia, 28 Febr 2007), ekonom UGM Revrisond Baswir menulis jika pidato pengukuhan Dr. Boediono sebagai guru besar ekonomi di UGM Yogyakarta, setebal 28 halaman dengan 24 sumber referensi ternyata mengacuhkan sistem perekonomian kolonial yang berjalan di negeri ini berabad-abad.
Oleh Baswir, Boediono yang tengah menjabat sebagai Menko Perekonomian ini, ternyata melupakan era kolonial sebagai bagian integral dari sejarah perekonomian negeri ini. “Padahal, era kolonial ialah bagian teramat penting dari sejarah perekonomian Indonesia. Ia tidak hanya penting karena berlangsung dalam kurun waktu yang sangat lama. Ia juga penting sebab aspek ekonomi adalah aspek utama dari kolonialisme”, demikian Baswir.
Sebab itu, demikian Baswir, Boediono telah melupakan kenyataan sejarah jika berakhirnya era Soekarno bukan semata-mata karena krisis ekonomi, namun lebih disebabkan intervensi Amerika Serikat (AS), Dana Moneter Internasional (IMF), dan Bank Dunia dalam memicu krisis ekonomi Indonesia. Hal yang sama juga bisa ditarik pada peristiwa mundurnya Suharto. Namun Boediono hanya melihat hal itu sebagai rentetan sejarah, tidak slaing kait-mengkait.
“Kepatuhan” Indonesia pada IMF, World Bank, dan sebagainya inilah yang kemudian menjadikan bangsa ini dari tahun ke tahun menimbun utang yang kian banyak. Berbeda dengan keterangan rezim SBY yang mengklaim telah berhasil menurunkan utang bangsa ini dan telah melunasi utang IMF, namun kita juga tahu jika IMF bukan satu-satunya lembaga pengutang, selain IMF ada ADB, World Bank, dan sebagainya.
Dalam artikel berjudul “Pernyataan SBY Soal Utang Luar Negeri Tidak Memihak Rakyat” (Koalisi Anti Utang, 7 April 2009), Ketua KAU Dani Setiawan memaparkan data-data valid yang dimilikinya yang ternyata menunjukkan jika utang Indonesia bukannya kian berkurang tapi malah membengkak di era SBY. “Outstanding Utang luar negeri Indonesia sejak tahun 2004 – 2009 juga terus meningkat dari Rp1275 triliun menjadi Rp1667 triliun (www.dmo.or.id).
Ditambah dengan peningkatan secara signifikan total utang dalam negeri dari Rp662 triliun (2004) menjadi Rp920 triliun (2009). Artinya Pemerintah “berhasil” membawa Indonesia kembali menjadi negara pengutang dengan kenaikan 392 triliun dalam kurun waktu kurang 5 tahun. Atau peningkatan utang negara selama pemerintah SBY naik rata-rata 80 triliun per tahun.
Angka penambahan jumlah utang rata-rata ini mengalahkan utang di era Soeharto yakni 1500 triliun dalam jangka 32 tahun.”
Ironisnya, kegemaran ngutang—yang didukung para Neolib di sekelilingnya—ini di era SBY tidak didukung oleh pembenahan pemerintahan yang bersih. Anti korupsi cuma pemanis bibir. Pemberantasan tindak pidana korupsi masih tebang-pilih.
Sebab itu, hasil riset lembaga internasional The Political and Economic Risk Consultancy (PERC) yang dirilis April 2009 kemarin memaparkan temuan jika Indonesia masih menjadi negara terkorup di Asia. Riset PERC tersebut dilakukan pada Maret 2009 terhadap 1.700 responden pelaku bisnis di 14 negara Asia, ditambah Australia dan Amerika Serikat.
Acara Deklarasi SBY Boediono dalam bahasa simbol jelas menyampaikan pesan jika mereka sangat terobsesi oleh Amerika Serikat, panglima kapitalisme dunia yang melahirkan gerakan Neo Liberal dan juga tidak memihak kaum miskin. Mendapat serangan ini, dalam bebagai sorum SBY berkali-kali menolak jika Boediono dikatakan sebagai ikon Neo Lib.
Namun ada pepatah, jika kita ingin melihat seseorang maka lihatlah siapa sahabat-sahabatnya. Nah, dalam dua peristiwa kemarin: Saat berangkat ke Bandung untuk menghadiri deklarasi, Boediono di kereta api didampingi oleh Muhammad Ikhsan yang duduk di sebelahnya, lalu ada pula M. Chatib Basri. Keduanya dikenal masyarakat luas sebagai pendukung Neo Lib. Dalam acara deklarasi juga hadir Sri Mulyani, mantan direktur IMF yang diangkat oleh SBY sebagai Menteri Keuangannya.
Lalu di hari yang lain, saat menjenguk Taufik Kiemas—suami Megawati—yang sakit di Jakarta, Boediono juga tampak didampingi Rizal Mallarangeng. Sosok ini dikenal luas sebagai ekonom Neo Liberal sekaligus aktivis JIL (Jaringan Islam Liberal).
Mudah-mudahan rakyat Indonesia bisa melihat dengan jernih siapa sesungguhnya pasangan capres-cawapres ini, dan tidak terpengaruh serta tidak tertipu oleh bualan para tokoh partai politik pendukung kaum liberal ini.
Kita tentu masih ingat, saat menjelang pemilu legislatif kemarin, para politisi “Islam” menyerukan agar umat memilih mereka dengan mengatakan jika umat Islam tidak memilih mereka, maka suara kaum sekuler dan kafir akan unggul.
Namun ironis, di saat suara umat sudah berada di kantung mereka, dengan enaknya para politisi “Islam” ini malah bersekutu dengan orang-orang liberal dan kaum kafir untuk mendukung satu pemimpin, hanya dengan imbalan beberapa kursi menteri.
Jika demikian tidak salah jika umat menyatakan bahwa orang-orang seperti ini sesungguhnya adalah Pedagang Umat, yang menjual agama dan umat-Nya demi kenikmatan dunia. Mudah-mudahan dalam Pemilu 2014 umat Islam tidak tertipu lagi oleh orang-orang seperti ini. Amien.
Kursi Dewan Haram Bagi Legislator Tanpa Kredibilitas

Para pengamat memperkirakan anggota DPR 2009-2014 terpilih lebih rendah kualitasnya dibanding anggota DPR 2004-2009. Apa gunanya fatwa haram golput oleh MUI?
Hidayatullah.com--Inilah proses pemilihan umum (pemilu) yang berjalan babak belur.
Pemilu April 2009 berlangsung dengan bayang-bayang tingginya golongan putih (golput) –tidak mengikuti kegiatan pemilu—akibat ketidakpercayaan terhadap proses pemilu 2004 lalu, serta perilaku anggota DPR yang terpilih. Sinyal golput sendiri sudah diwujudkan masyarakat dengan kurangnya angka partisipasi pada kegiatan pemilihan kepala daerah di sejumlah daerah.
Untuk menekan golput pada Pemilu 2009, sampai dikeluarkan fatwa haram golput oleh MUI. Hal ini mengingat anggaran pemilu Rp 47 triliun. Cukup besar untuk negara berkembang semacam Indonesia, apalagi di tengah krisis global sekarang ini. Sayang kalau partisipasi masyarakat terlalu rendah dibanding anggaran yang dikeluarkan.
Faktor lain jika banyak golput, maka peluang memilih anggota legislatif berkualitas semakin jauh dari harapan. Nyatanya setelah pemilu berlangsung, angka golput semakin tinggi. Jika tahun 2004 (untuk Pilpres), golput sebanyak 24%. Untuk pemilu legislatif 2009, 29%.
Di samping itu diperkirakan kualitas anggota DPR terpilih untuk 2009-2014 lebih buruk dibanding anggota DPR 2004-2009. Menurut surat kabar nasional, dari 560 anggota DPR terpilih, hanya sekitar 50 orang saja yang bisa (langsung) bekerja di bidang legislasi. Hal disebabkan banyak anggota DPR terpilih dari kalangan artis, keluarga pengurus partai, serta kerabat pejabat. Ditenggarai mereka minim kapabilitas di bidang legislasi.
Lantas apa manfaat fatwa haram golput yang dikeluarkan MUI untuk meningkatkan partisipasi pemilu dan mendapat anggota DPR berkualias, dengan kriteria kompetensi: siddiq, amanah, fathonah (kridibel), dan tabligh, jika hasil pemilu 2009 semacam itu? Menurut Wakil Ketua Komisi Fatwa MUI, Prof. KH. Ali Mustafa Ya’kub kepada hidayatullah.com, sebenarnya melonjaknya angka golput bukan disebabkan minimnya partisipasi pemilih, namun karena kasus masyarakat yang tidak masuk DPT.
MUI dalam fatwa haram golput sifatnya hanya menghimbau mayarakat untuk memiliki caleg yang memiliki empat kriteria. Terlepas apakah masyarakat memilih atau tidak, itu bukan urusan MUI.
“Yang penting tanggung jawab MUI sudah gugur,” ujar Mustafa. Namum, Mustafa mengakui jika masih banyak masyarakat yang taat fatwa MUI.
Dalam fatwa haram golput, sebenarnya MUI bukan saja mengharamkan golput, namun juga haram memilih pemimpin caleg yang tidak memiliki empat kriteria dan moralitas yang baik. Sebab, buruknya kinerja DPR selama ini bisa jadi karena kompetensi yang rendah.
Oleh karena itu, Mustafa Ya’kub mensinyalir, bertambahnya golput karena kinerja DPR selama ini dianggap buruk oleh masyarakat. Oleh karena itu, boleh jadi masyarakat jadi enggan memilih. Apalagi, bursa caleg tahun 2009 ini diramaikan oleh 61 artis yang masih disangsikan kredibilitasnya.
“Posisi legislatif bukanlah ladang cari uang saja yang kemudian diperebutkan oleh banyak pihak. Namun juga pertaruhan kompetensi dan kredibilitas. Sejauh mana mereka bisa membuat legislasi,” katanya.
Oleh karena itu, menurut Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta ini, haram menjadi caleg jika tidak memiliki kompetensi dan empat kriteria. Bukan saja para artis dan selebriti, namun juga pemilik modal, anak pejabat, dan lain sebagainya. “Tentunya jika hal itu hanya diniatkan untuk mencari uang,” tegasnya.
Masih Asumsi
Sementara, menurut Aribowo, pengamat politik Unair, minimnya kompetensi para caleg yang mayoritas pendatang baru dan artis masih asumsi. Kita lihat dulu kinerja mereka beberapa waktu ke depan. “Jika iya, baru kita adakan evaluasi,” katanya.
Ia mengatakan, kinerja buruk DPR tidak melulu dari pendatang baru. Sewaktu DPR dipegang orang-orang lama zaman Orde Baru, anggota legislatif dari partai atau dari Golkar juga belum maksimal.
Aribowo mengakui, lemahnya kinerja DPR bukan hanya disebabkan minusnya kompetensi para anggota dewan, namun karena tekanan dan pengaruh partai. “Jarang, anggota DPR yang bisa independen,”katanya.
Mengenai golput, Ari mengatakan, hal itu lumrah terjadi dalam negara demokrasi. “Justru jika pemilih mencapai 90 persen lebih, malah harus dicurigai, jangan-jangan ada mobilisasi,” tegasnya.
Namun, kata Aribowo, rendahnya kredibilitas para caleg dan buruknya kinerja DPR, juga menjadi bahan pertimbangan masyarakat untuk memilih. [ans/www.hidayatullah.com]
Monday, May 25, 2009
Deklarasi SBY-Berbudi Dalam Bahasa Simbol (1)

Sebuah iklan teve berbunyi: “Soal lidah bisa bohong, tapi soal (cita)rasa gak bisa bohong.” Slogan ini agaknya pas sekali jika ditarik ke ranah politik di negeri ini.
Sebuah iklan teve berbunyi: “Soal lidah bisa bohong, tapi soal (cita)rasa gak bisa bohong.” Slogan ini agaknya pas sekali jika ditarik ke ranah politik di negeri ini, di mana antara omongan para pejabat dengan kenyataan terdapat fakta yang saling bertentangan. Di mulut para pejabat menyatakan “A”, sedangkan faktanya “Z”, di mulut para pejabat mengatakan menolak, namun faktanya menerima. Munafik, mungkin ini istilah yang terlalu sarkastis. Tapi mungkin diperlukan bagi bangsa yang sudah terbiasa dengan eufimisme yang sesungguhnya mengaburkan kesejatian.
Sebab itu, untuk mendapatkan makna yang hakiki, bahasa simbol diperlukan untuk bisa mengungkap apa adanya. Dan alangkah jauh lebih baik jika lidah juga membenarkan apa yang diungkap oleh simbol tersebut. Dan alhamdulillah, acara Deklarasi SBY-Budiono yang digelar Jum’at sore, 15 Mei 2009, di Gedung Sasana Budaya Ganesha (Sabuga) Bandung, telah menyingkap kepada kita semua tentang jati diri mereka. Inilah beberapa bahasa simbol yang terjadi saat itu:
Hamba Washington
Sejak di pintu gerbang hingga ke dalam ruangan utama, kain merah-putih-biru mendominasi tema acara Deklarasi Pasangan Calon Presiden dan Calon Wakil Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Budiono. Hal ini mengingatkan kita kepada acara serupa yang digelar Obama dan Joe Biden saat deklarasi capres-cawapres di Amerika beberapa bulan lalu. Cita rasa Amerika dalam acara deklarasi SBY-Berbudi ini juga tampak dalam slogan-slogam yang dicetak di kaos, spanduk, maupun pin, seperti slogan “One Vote One Nation”. Ini jelas milik Partai Demokratnya Obama.
Apakah dengan demikian Partai Demokrat-nya SBY membenarkan jika mereka merupakan “branch” alias kepanjangan tangan Partai Demokrat yang di AS? SBY dan para pejabat Partai Demokrat yang ada di Jakarta tentu menolaknya. Namun bahasa simbol yang mereka perlihatkan justru mengatakan yang lain.
Apalagi dengan nada penuh kebanggaan, Sekjen Partai Demokrat (PD) Ahmad Mubarrok kepada wartawan menyatakan jika acara deklarasi tersebut mengingatkannya pada acara deklarasi pasangan Obama-Biden di AS. Siapa pun yang menghadiri atau memirsa tayangan acara tersebut yang disiarkan secara langsung oleh sejumlah stasiun teve swasta akan mengakui jika deklarasi “SBY Berbudi” memang menjiplak habis tema acara deklarasi Obama dan Biden.
Seorang pembaca KOMPAS (16 Mei 2009) dalam Rubrik “Kata Kita” mengirim pesan singkat yang berbunyi, “Kenapa bangsa ini jadi plagiat terus? Ternyata enggak cuma musisi aja, eh SBY juga malah niru pesta Obama. Enggak kreatif.” (Mueng, Bekasi, +6281376145XXX)
Sebenarnya, SBY sendiri memang telah lama akrab dan merasa “bagaikan di rumah sendiri” dengan Amerika Serikat, bahkan menganggapnya sebagai “negeri keduanya”, setelah Indonesia.
Dalam tulisan berjudul “Sebuah Imperium Menunggu Rubuh” yang dimuat dalam situs Hidayatullah.com (http://hidayatullah.com/index.php?option=com_content&task=view&id=6650&Itemid=84), Amran Nasution yang merupakan mantan Redaktur Majalah Gatra dan Tempo dan sekarang bergiat di Institute for Policy Studies (IPS) Jakarta, menulis, “Bagi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Amerika teramat sulit dilupakan. Betapa tidak? Dalam merintis karir militer, ia mondar-mandir menuai ilmu di negeri itu. Ia sempat dua kali mengikuti program latihan militer di Fort Benning, Georgia, di tahun 1976 dan 1982. Lalu, sekolah staf dan komando, 1991, ia tempuh di Fort Leavenworth, Kansas, tempat penggodokan para perwira yang amat bergengsi itu. Gelar S2, ia raih di universitas di sana. Tentu tak banyak perwira Indonesia yang begitu intens menimba ilmu dari negeri yang punya pemenang nobel terbanyak di dunia.
Maka dalam suatu kesempatan mengunjungi Amerika di tahun 2003, sebagai Menko Polkam, SBY berkata, ‘’I love the United State, with all its faults. I consider it my second country’’. Terjemahan bebas penulis: “Saya cinta Amerika, dengan segala kesalahannya. Saya menganggapnya negeri kedua saya.” (lihat Al Jazeera English – Archive, 6 Juli 2004).” Link di Al Jazeera English adalah http://english.aljazeera.net/English/archive/archive?ArchiveId=4965 dimana SBY mengatakan, “‘I love the United State, with all its faults. I consider it my second country.’’
Bentuk kecintaannya kepada AS salah satunya dituangkan ke dalam themes acara deklarasi dirinya, yang jika mau jujur sebaiknya dinamakan “The Washington Taste”.
Hal ini diperkuat dengan dipilihnya sosok Budiono, saat itu baru saja mengundurkan diri dari Gubernur Bank Indonesia, seorang ekonom yang oleh banyak kalangan diidentikan sebagai ikon ekonom Indonesia yang berkiblat ke Washington. Dalam bahasanya Amien Rais, Budiono merupakan ikon dari gerakan Neo-Liberal. Kelompok ini merupakan anak cucu dari Mafia Berkeley yang pada November 1967 menjual sebagian besar kekayaan alam Indonesia kepada jaringan korporasi Yahudi Dunia yang berpusat di AS. Kelompok inilah yang membuat bangsa kaya raya ini sekarang menjadi bangsa paria dan dicemooh dunia.
Track-Record Budiono pun memperkuat ini. Di antaranya adalah mengucurkan dana BLBI saat dia menjabat sebagai Deputi Gubernur BI, dan saat menjabat sebagai Ketua Bappenas, Budiono melakukan langkah Privatisasi sejumlah BUMN Strategis yang sangat merugikan bangsa ini. SBY telah memilih sosok ini sebagai cawapresnya. Dan seluruh partai pendukungnya yakni PKB, PAN, PPP, PKS, PDS, dan puluhan partai kecil lainnya, diakui atau tidak, sesungguhnya turut mendukung sikap SBY ini sebagai “Cheerleader”. Agar rakyat dalam Pemilu 2014 mendatang tidak bingung, alangkah indahnya jika semua parpol ini nanti meleburkan diri ke dalam Partai Demokrat. Bukankah Indomie, Sarimie, Salamie, dan sebagainya itu sama-sama dimiliki oleh satu perusahaan, Salim Group? (bersambung/rd)






